raja pedang kho ping hoo

Awalnya hanya ingin membaca beberapa halaman saja untuk menyegarkan kembali ingatan lama, tapi tiba-tiba tak mau berhenti, dan cerita setebal 869 halaman itu pun selesai dalam dua hari.

Raja Pedang, cerita silat karya Kho Ping Hoo. Tak cukup sampai di situ, saya pun lanjut membaca judul berikutnya, Rajawali Emas (1028 halaman), dan tamat dalam dua hari pula. Disambung Pendekar Buta (897 halaman), rampung satu hari. Lalu Jaka Lola (849 halaman), habis dalam satu hari pula. Total empat judul habis tak sampai seminggu.

Luar biasa cersil Kho Ping Hoo. Cara berceritanya enak diikuti dan bikin candu.

Judul pertama, Raja Pedang, bercerita tentang Tan Beng San, seorang anak gelandangan yang lugu, mendadak mendapat tenaga sakti setelah dicekoki pil beracun oleh seorang golongan hitam yang sedang mencoba khasiat obat buatannya. Saat anak ini kelojotan hampir mati, muncul seorang pendekar aneh yang karena mengira anak ini hendak menyerangnya, lantas dia menusukkan panahnya yang juga beracun. Pil beracun mengandung hawa panas (yang), sedangkan panah beracun mengandung hawa dingin (im). Kedua hawa yang bertentangan ini bertarung dalam tubuh Beng San, satu sama lain saling meredakan, dan akhirnya menjadi tenaga sakti yang luar biasa.

Ini fenomena yang sering terjadi dalam cerita silat. Seseorang mendapatkan tenaga sakti (sinkang) tanpa sengaja akibat makan racun.

Selanjutnya Beng San memperoleh tambahan energi dari seorang tokoh jahat yang berniat membunuhnya dengan cara mengajarkan cara bersemadi secara salah, namun efeknya malah memperkuat tenaga sakti dalam tubuh Beng San.

Belum cukup sampai di situ, suatu hari Beng San bertemu dengan dua tokoh sakti yang terluka parah karena pertarungan. Karena keduanya masih penasaran menentukan siapa yang lebih unggul, mereka menggunakan Beng San sebagai alat ukur, dengan cara mengajarkan kepada Beng San satu jurus lalu meminta lawannya untuk memecahkan cara menghadapi jurus itu, juga dengan mengajarkan jurusnya kepada Beng San. Demikian berganti-ganti sampai Beng San menghafal semua jurus yang diajarkan kedua tokoh sakti itu.

Meski telah menghafal jurus-jurus yang sakti, Beng San belum memahami kehebatan jurus-jurus itu sehingga belum bisa menggunakannya untuk bertarung. Terakhir, dia mendapat bimbingan dari seorang tokoh sakti hingga menjadikannya seorang pendekar yang sejajar dengan tokoh-tokoh pemuncak.

Dalam proses menuju pendekar nomor satu, Beng San selalu menyembunyikan kepandaiannya, sehingga orang-orang mengira dia hanyalah seorang pemuda lemah yang tolol dan tak bisa apa-apa. Namun di akhirnya semua orang tercengang ketika Beng San mampu mengalahkan tokoh-tokoh puncak pada masa itu dalam perebutan gelar Raja Pedang.

Sosok Beng San dalam cerita ini, meski gembel dan tak dikenal pandai bersilat, sejak kanak-kanak sudah disukai beberapa wanita karena kepolosan dan ketulusannya. Kisah cinta selalu menjadi bumbu penyedap dalam cerita silat. Dan dari sini muncul juga tragedi.

Kisah kedua, Rajawali Emas, memunculkan pendekar baru dengan tipikal yang mirip. Kwa Kun Hong, anak ketua partai Hoasan, awalnya tidak suka ilmu silat dan tidak diajari ilmu silat oleh ayahnya, namun pada akhirnya menjadi pendekar yang sangat sakti. Modalnya adalah suka membaca dan punya hafalan yang kuat, sehingga dia bisa menguasai ilmu pengobatan dengan hanya membaca tiga kitab milik Setan Obat.

Tanpa sengaja Kun Hong bertemu seekor burung rajawali berwarna emas yang membawanya ke puncak gunung tempat pertapaan terakhir tokoh sakti dari masa lalu, Bu Beng Cu (Tanpa Nama). Di sini Kun Hong mempelajari ilmu silat sakti warisan Bu Beng Cu, menjadikannya seorang pendekar yang mampu mengalahkan tokoh-tokoh sakti.

Kisah ketiga, Pendekar Buta, melanjutkan petualangan Kun Hong, yang di akhir episode sebelumnya membutakan kedua matanya sendiri setelah kekasihnya bunuh diri. Meskipun buta, Kun Hong mendapat banyak peningkatan ilmu silat berkat petunjuk dari Beng San dan seorang pendekar tua saudara seperguruan Bu Beng Cu. Dan di bagian akhir, dia menemukan satu jurus pukulan yang sangat dahsyat, yang muncul dari kemarahan saat melihat tragedi pada keluarga milik Beng San.

Kisah keempat, Jaka Lola, menceritakan Yo Wan, murid Kun Hong, yang justru mendapat pelajaran ilmu-ilmu hebat dari dua tokoh tua. Di sini kita masih bertemu dengan Tan Beng San dan Kwa Kun Hong.

Mohon maaf saya tidak bisa banyak bercerita tentang serial Raja Pedang yang luar biasa ini. Silakan dibaca saja cersilnya.

Saya telah menyimpan keempat judul di tautan berikut:

Dan selengkapnya cersil karya Kho Ping Hoo bisa diunduh di SINI. [Asso]

Leave a Reply