catatan anas

Catatan akhir tahun :

1. Kampanye pemilu sudah berlangsung sebulan dan 3 hari. Yang tampak dan terasa adalah terlalu dominannya “rasa kampanye” pilpres. Kampanye pileg seperti berada di pinggiran, mengalami “marginalisasi”.

2. Percakapan politik di elit dan publik (pemilih), termasuk media massa, tersedot pada urusan pilpres. Urusan pileg hanya mendapatkan ruang yang terbatas. Tipis2 saja.

3. Inilah salah satu kerugian nyata dari penyelenggaraan pemilu yang bersamaan waktunya pileg dan pilpres. Pileg berposisi seperti “anak tiri”, sementara pilpres adalah “anak kandung”.

4. Ini adalah keadaan yang tidak baik, tidak sehat bagi menjadikan pemilu sebagai peristiwa politik untuk mendorong kemajuan demokrasi kita. Ruang, waktu dan kesempatan pemilih untuk melakukan penilaian yg utuh kpd seluruh kontestan pemilu tidak memadai. Partai dan caleg2nya, termasuk calon Anggota DPD tenggelam oleh hiruk pikuk urusan pilpres.

5. Sudah saatnya melihat kembali model penyelenggaraan pemilu 2004, ketika pileg dilaksanakan terlebih dulu, baru kemudian pilpres. Pileg 5 April, pilpresnya 5 Juli 2004, dan putaran kedua 20 September 2004.

6. Partai, caleg dan calon Anggota DPD menjadi “tuan rumah” saat pileg, karena pada saat kampanye seluruhnya fokus pada urusan kompetisi pileg. Ketika pilpres, geser “tuan rumahnya” adalah para capres-cawapres. Para pemilih juga mendapatkan kesempatan pada fokus menilai pada jenis pemilihan masing2.

7. Tiket politik yg digunakan untuk pilpres 5 Juli 2004 adalah hasil pileg 5 April 2004. Masih segar, masih baru dicetak dari “percetakan aspirasi rakyat”. Bukan seperti tiket pilpres 2024 ini yang dicetaknya tahun 2019 yang lalu, sudah “robek2 dan kusam”. Tiket 2019 itu seperti mengabaikan perubahan aspirasi pemilih, abai terhadap keadaan2 baru yang selalu berkembang.

8. Saatnya untuk menata lagi : pileg dan pilpres tidak bersamaan waktunya. Yang logis secara politik dan teknis adalah : pileg terlebih dulu, dan pilpres kemudian yang tiketnya berasal dari hasil pileg tersebut.

9. Masih ingat brp penyelenggara pemilu yg meninggal tahun 2019 silam karena beban kerja di TPS yg sangat berat. Tidak ada pemilu di dunia yg lebih berat bebannya bagi para petugas di TPS di Indonesia tahun 2019 dan 2024. Semoga pemilu 2024 ini terhindar dari kejadian 5 tahun silam.

10. Sekarang kita maksimalkan yg bisa dilakukan oleh seluruh stakeholder penyelenggaraan pemilu. Pemilu bersamaan waktunya ini tidak cukup ideal, tetapi karena sdh mjd ketentuan ya tetap musti ditunaikan dgn sebaik mungkin. Maksimalkan potensi baik, kendalikan dan kurangi potensi buruknya. Kita semua punya tanggungjawab terlibat untuk pemilu 2024 berlangsung dan berhasil baik, meski tidak cukup ideal model penyelenggaraannya. Semangat KPU, Bawaslu dan seluruh kontestan. Semangat rakyat!

(Sumber: Twitter Anas Urbaningrum)


Komentar:

Saya sangat setuju dengan usulan dari Bpk Anas Urbaningrum ini. Semoga bisa diterapkan pada Pemilu tahun 2029. [Asso]

 

Leave a Reply