filsafat

Arti Etimologis

Filsafat berasal dari bahasa Yunani, philosophia. Kata ini terdiri dari kata philo dan sophiaPhilo artinya cinta dalam arti yang luas, yaitu ingin, dan karena itu timbul usaha untuk mencapai yang dicintai atau diinginkan itu. Sophia artinya kebijaksanaan, kepandaian, atau pengertian yang mendalam. Secara sederhana, menurut arti harfiahnya, filsafat boleh diartikan: cinta kepada kebijaksanaan.

Encyclopedia Britannica (1970) menjelaskan: “… is derived from the composite Greek noun philosophia means the love of pursuit wisdom.” (… berasal dari gabungan kata benda Yunani philosophia yang artinya cinta terhadap pencarian kebijaksanaan).

Encyclopedia of Philosophy (1967) menyebutkan: “The Greek word sophia is ordinary translated as ‘wisdom’ and the compound philosophia, from wich philosophy derives, is translated as ‘the love of wisdom’.” (Kata Yunani sophia biasanya diterjemahkan dengan ‘kebijaksanaan’ dan kata majemuk philosophia, dari mana istilah philosophy berasal, diartikan dengan ‘cinta kebijaksanaan’).

Arti Terminologis

Pythagoras, orang yang mula-mula menggunakan kata filsafat, mengartikan filsafat sebagai the love of wisdom atau cinta kebijaksanaan, hampir sama dengan arti harfiahnya. Dia menjelaskan wisdom yang dimaksud adalah melakukan perenungan tentang Tuhan.

Bagi Plato, filsafat ialah pengetahuan yang berminat mencari kebenaran asli.

Bagi Aristoteles, filsafat adalah pengetahuan yang meliputi kebenaran yang tergabung di dalamnya metafisika, logika, retorika, ekonomi, politik, dan estetika.

Menurut al-Farabi, filsafat ialah pengetahuan tentang alam wujud bagaimana hakikatnya yang sebenarnya.

Immanuel Kant mengartikan filsafat sebagai pengetahuan yang menjadi pokok pangkal segala pengetahuan. Di dalamnya tercakup empat persoalan: 1) Apa yang dapat diketahui? Jawabnya: metafisika; 2) Apa yang seharusnya diketahui? Jawabnya: etika; 3) Sampai di mana harapan kita? Jawabnya: agama; 4) Apa itu manusia? Jawabnya: antropologi.

Bertrand Russel menyebut bahwa filsafat adalah usaha untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan asali (ultimate question) secara kritis.

Mulder (1966) mengartikan filsafat sebagai pemikiran teoretis tentang susunan kenyataan sebagai keseluruhan.

William James menyebutkan bahwa filsafat adalah kumpulan nama bagi pertanyaan yang tidak pernah terjawab secara memuaskan bagi semua yang menanyakannya.

Poedjawijatna (1974), mengartikan filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagu segala sesuatu berdasarkan pikiran belaka.

Hasbullah Bakry (1971) menyebut filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta, dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.

[Disarikan dari Ahmad Tafsir, Filsafat Umum Akal dan Hati Sejak Thales Sampai James, Bandung: Rosda, cetakan kelima, 1997, hal. 8-9].

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *