melinjo“Hey, siapa itu?!”

Kasan melesat ke pohon melinjo kira-kira 30 meter di depannya. Sore itu baru saja ia sampai di kebun, menaruh cangkul di bawah pohon duku, dan menghela nafas lebih panjang setelah berjalan kaki hampir satu kilometer dari rumahnya. Saat memandang sekeliling, matanya tersentak sesuatu yang mencurigakan. Pohon melinjo itu bergoyang-goyang tak wajar dengan bunyi berkerosakan, seperti ada yang sedang buru-buru turun dari sana.

Kasan berlari zigzag menghindari tiga batang pisang, dua pohon melinjo, dan satu pohon kelapa. Semak dan ilalang diterabasnya saja. Beruntung, yang turun dari atas sana juga tak bisa cepat karena mesti berhati-hati meniti dahan-dahan melinjo yang rapat dan setiap saat bisa berkhianat.

Melotot mata Kasan setibanya di bawah pohon yang dituju. Rahangnya menggembung bagai kodok. Ia melihat, di tiga atau empat dahan paling bawah, seseorang berdiri memeluk batang pohon. Ada kantong plastik hitam besar di tangannya.

“Bangsat!” teriak Kasan. “Siapa kamu berani-beraninya maling di pohonku?”

Muka orang itu terpacak di batang pohon sehingga tak tampak dari bawah. Tapi sepertinya dia masih seorang bocah tanggung. Kakinya ceking dan pakaiannya dombrang.

“Kamu anak si Kamris, heh? Anak si Marduki?”

Anak itu tak menjawab.

“Turun!” Kasan memukulkan punggung goloknya ke batang pohon. “Dikadek sia ku aing![i]

Tubuh anak itu gemetaran.

Kasan membenturkan goloknya sekali lagi. Kakinya pun ikut mendepak.

“Ampun… ampun, Mang! Jangan dikadek.”

Anak itu menjejakkan kakinya perlahan-lahan hingga ke dahan yang paling rendah, lalu meloncat ke tanah. Hampir ia terjatuh. Ketika ia berdiri dengan agak menunduk di hadapan Kasan, barulah wajahnya terlihat jelas. Umurnya sekitar tiga belas atau empat belas tahun.

Kasan terkejut. “Kamu anak… Warsih?”

Tangan kiri Kasan tadinya hendak mencekik leher anak itu, tapi lalu turun mencekal kaosnya yang tak berkerah.

Si bocah menganggukkan kepalanya dengan payah. Warsih, ibu anak itu, adalah seorang janda. Beberapa tahun lalu suaminya mati terjatuh dari pohon aren. Kini ia bekerja sebagai buruh cuci harian di sebuah komplek perumahan tak jauh dari kampungnya.

“Nama kamu Dulah, bukan?”

Anak itu kembali mengangguk. Tubuhnya gemetaran, menimbulkan bunyi berkresekan di kantong plastik yang dipegangnya.

“Kenapa kamu mencuri?”

“Anu, Mang… ee, buat beli rokok.”

Kasan geleng-geleng kepala.

Dulah menambahkan, “Betul, Mang. Saya malu minta terus sama teman-teman.”

Kasan melepaskan tangannya dari kaos belel Dulah. Ia merenggut kantong plastik dari tangan anak itu dan melongok isinya yang belum sampai setengah. Buah-buah sebesar kelereng berbentuk lonjong campur aduk di dalam kantong, kebanyakan diambil berikut tangkai dan daun-daun.

“Ini yang masih hijau kamu ambil juga, heh?” sentak Kasan.

Dulah tergagap. “A..anu, Mang, buru-buru.”

“Dasar maling! Berapa kali kamu mencuri di kebunku?”

“Eeh, baru sekali ini, Mang.”

“Bohong!” tiba-tiba Kasan kembali mencekal leher Dulah. Kasan tahu, pencurian pertama biasanya tak ketahuan.

Dulah mengkeret. “Ampun…. Tiga kali, Mang.”

“Tiga kali?” Kasan menghentakkan badan Dulah ke belakang. Tapi cekalannya tidak ia lepaskan. “Siapa lagi yang suka maling selain kamu?”

Dulah gelagapan. “Ti..tidak ada, Mang.”

“Bilang yang jujur, nanti kamu kuampuni.”

Mata si Dulah tampak berputar-putar tak karuan. Kasan maklum, seringkali seorang anak lebih takut pada temannya dibanding siapa pun.

“Awas, sekali lagi kamu mencuri…,” Kasan mengeratkan cekalannya, tapi kata-katanya tak ia teruskan. Sebetulnya ia sendiri tak punya ide apa yang harus dilakukan terhadap bocah itu. Bahkan jika mencuri lagi.

“Iya, Mang, ampun, tidak lagi-lagi.”

“Satu lagi. Kalau kamu melihat ada orang mencuri di kebunku, lapor padaku. Paham?”

“Iya, Mang.”

Akhirnya Kasan melepaskan cekalannya. Dulah menarik nafas lega, lalu memutar badan. Sejak tadi ia ingin kabur. Tapi baru beberapa langkah, ia balik lagi.

“Anu…, sandal saya. Di dalam kantong.”

Meledak tawa Kasan. Dibiarkannya Dulah membongkar bagian bawah kantong plastik yang ia sodorkan.

Seraya memperhatikan Dulah, Kasan merogoh saku celananya. Sebungkus rokok Gudang Garam Merah. Isinya masih ada separuh lebih. Dicomotnya sebatang, ditempelkan ke sela bibirnya. Lalu terdengar bunyi cetrek, korek gasnya menyala.

Dulah tengadah dengan raut muka mirip pengemis.

“Mau?” tanya Kasan.

Dulah mengangguk.

“Panjat lagi pohon ini.”

Dulah terheran-heran, tapi ia menurut. Setelah mendapatkan sandal jepitnya, ia pun naik. Setibanya di dahan pertama, Kasan menyerahkan kantong plastik. “Penuhi kantong ini. Ambil semua yang sudah matang.”

“Iya, Mang.”

Kasan mengulurkan pula bungkusan rokok. “Ambil satu.”

Dulah mengambil sebatang, menyelipkan di bibirnya, lalu tangannya terulur lagi ke bawah untuk menerima korek gas dari tangan Kasan.

Hatur nuhun[ii], Mang,” ucapnya ketika rokok mengepulkan asap. Lalu ia memanjat lebih tinggi. Kasan mengawasi dari bawah sampai badan Dulah nyaris seluruhnya tertutupi dedaunan. “Ingat, hanya yang sudah merah!”

Dulah menyahut mengiyakan.

Kasan menghembuskan asap rokoknya. Sial, pikirnya dengan geram. Seminggu tak ditengok, maling merajalela. Masa harus kutunggui seharian?

Hampir seminggu ini Kasan kurang enak badan sehingga lebih banyak berbaring di kasur. Hari ini dia sudah baikan, makanya ia pergi ke kebun untuk menggerakkan otot-ototnya yang terasa kaku.

Lalu ia berjalan berkeliling sambil memeriksa kebunnya yang luasnya kira-kira seperempat hektar. Macam-macam tanaman tumbuh di situ. Melinjo, pisang, singkong, kelapa, duku, jambu, menteng, rambutan, albasiah, dan ada juga pohon durian. Kebanyakan sudah tumbuh semasa hidup orangtuanya. Kasan tidak menanam palawija karena orang-orang kampung sering melepas kambing piaraannya begitu saja.

Di beberapa pohon melinjo, Kasan menemukan bekas-bekas kerusakan seperti dahan yang patah atau daun-daun yang mengering. Hatinya tambah geram. Terlebih karena ia tahu tak bisa berbuat apa-apa, kecuali apabila dipergokinya maling itu beraksi.

Seusai berkeliling, Kasan mengambil cangkul di bawah pohon duku. Ia menuju pohon pisang terdekat lalu menyasap rerumputan dan semak di sekelilingnya. Tanah dan rumput hasil cangkulannya ia tumplekkan di pangkal batang pisang untuk menyuburkan tanah. Setelah melakukan hal yang sama pada beberapa batang, Kasan memetiki pucuk-pucuk singkong di pagar kebun untuk lalapan.

Hari pun meredup. Kasan duduk beristirahat di bawah pohon menteng. Diambilnya sebatang rokok. Sisa di bungkusan tinggal satu batang.

“Dulah, turun,” teriak Kasan melihat Dulah masih sibuk di atas pohon melinjo.

Dulah turun dengan agak kerepotan karena beban yang dibawanya. Kantong plastiknya belum penuh. “Anu, Mang, masih harus dipilih-pilih,” Dulah menjelaskan ketika Kasan memeriksa hasil kerjanya yang rata-rata baru menampakkan warna merah muda. Bijinya sudah layak jual dan bisa dijadikan sayur, tapi cangkangnya harus sampai merah atau merah tua agar bisa dibuat jadi emping.

“Ya sudah,” jawab Kasan. “Memang belum waktunya.”

Kasan menjejalkan pepucuk daun singkong ke atas tumpukan buah melinjo di dalam kantong plastik. “Bawa,” perintahnya seraya menyerahkan batang rokok terakhir kepada Dulah. Ia menyelipkan goloknya di pinggang, memanggul cangkulnya di bahu, dan melangkah ke jalan setapak. Dulah menyalakan rokoknya, lalu berjalan mengikuti Kasan sambil menjunjung hasil kerjanya di atas pundak.

Jalur setapak itu berpangkal di jalan aspal berbatu. Di pinggir jalan itu ada tiga pucuk rumah. Salah satunya membuka warung kelontong. Bi Edoh, pemilik warung, saat itu tengah duduk tercenung di beranda. Ia tak segera bangkit ketika Kasan mampir ke warungnya.

“Merah sebungkus, Bi,” kata Kasan.

Bi Edoh bangun dengan enggan lalu masuk ke dalam warung.

“Kamu mau rokok apa, Dul?”

Dulah meletakkan bawaannya dan mengusap peluh di dahinya. “Terserah Mamang saja,” jawabnya.

“Merah mau?”

“Yah, masa rokok orang tua, Mang?”

Kasan tertawa. “Katanya terserah. Ya sudah, ngomong sendiri sana.”

Dengan cekatan Dulah berteriak, “Mild, Bi, sebungkus.”

“Banyak amat,” sela Kasan. “Sebatang aja.”

“Gak diketeng, Mang.”

“Gak jadi kalau gitu.”

“Ya udah. Bi, super aja 2 batang.”

Bi Edoh meletakkan sebungkus rokok merah dan 2 batang super di atas toples permen. Kasan mengambil rokoknya, demikian pula Dulah.

“Di rumahmu ada beras, enggak, Dul?”

“Ngg…, enggak tahu, Mang.”

Kasan mengodok saku celana, menarik selembar uang dua puluh ribuan. Ia berpikir sejenak. Uang itu ada sedikit kembalian untuk membayar rokok, tapi kurang jika ditambah ini: “Bi, sekalian beras ya, dua liter.”

Bi Edoh agak masam mukanya ketika menakar beras. Kasan masih punya catatan utang di warungnya. Tidak banyak, tapi hampir setengah bulan belum dibayar. Kasan dapat menangkap kesan itu, tapi ia tak peduli. Ia tahu istrinya akan semasam itu juga mukanya kalau tahu ia membelikan beras untuk seorang janda.

“Besok pagi kamu datang lagi ke kebun,” ucap Kasan saat Dulah menerima kantong beras dari tangan Bi Edoh. “Kamu akan menyiangi rumput di bawah pohon pisang dan tangkil[iii]. Mau?”

“Mau, Mang. Hatur nuhun.”

“Sekarang pulanglah.”

Dulah menyalakan rokok supernya, mengucap terima kasih sekali lagi, lalu melangkah cepat ke kampungnya di arah barat jalan. Kasan menatap punggung anak itu sampai lenyap di belokan. Anak yatim. Kurang makan dan tak berpendidikan. SD pun berhenti di pertengahan.

Tapi bukan itu yang membuat Kasan tak tega menghukum si bocah.

Saat berjalan pulang ke kampungnya di arah timur jalan, Kasan merenungkan suatu rasa bersalah yang menyeruak sejak melihat Dulah. Pikirannya dilanda berlaksa pengandaian. Lima belas tahun lalu, ia dan Warsih pernah menjalin hubungan cinta selama dua tahun. Lalu tiba-tiba masuklah perempuan lain. Diiringi rasa bimbang yang lama tak terdamaikan, Kasan meninggalkan Warsih dan memilih Maryam, istrinya yang sekarang. []

 

[i] Arti harfiah: Dibacok kamu oleh saya! (Agak mengherankan, bahasa Sunda menggunakan bentuk pasif untuk ancaman)

[ii] Hatur nuhun: Terima kasih.

[iii] Tangkil: Melinjo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *