Kasihan kaum Islam politik itu. Merasa diri besar, merasa mewakili Islam, merasa Islam sebagai agama mayoritas seharusnya mampu mendominasi Republik ini, tapi selama ini mereka tak pernah mampu memenangkan calon presiden dari kalangan mereka sendiri.

Pencapaian terbesar mereka dalam sejarah Indonesia hanyalah ketika Mohammad Natsir tokoh Masyumi sempat menjadi perdana menteri selama delapan bulan (5 September 1950 – 26 April 1951), lalu Burhanuddin Harahap yang juga 8 bulan (12 Agustus 1955 – 24 Maret 1956). Sejak itu mereka selalu menjadi medioker dalam percaturan politik Indonesia.

Sempat merasa menang ketika Poros Tengah yang dimotori Amien Rais berhasil menjadikan KH Abdurrahman Wahid menjadi presiden pada tahun 1999, tapi akhirnya mereka sendiri yang menggulingkan Gus Dur di tengah jalan. Bagaimana pun, meski merupakan ulama besar, Gus Dur bukan bagian dari mereka.

Sedikit punya harapan ketika Amien Rais sang tokoh reformasi mencalonkan diri menjadi presiden tahun 2004, tapi pupus di putaran pertama.

Yang aneh, di pilpres 2014 mereka mendukung Prabowo Subianto, tokoh nasionalis yang rekam jejaknya nyaris sama sekali tidak ada bau-bau Islamnya. Mereka mengangkat PS sebagai panglima umat Islam, menganggap mendukung PS sebagai jihad untuk kepentingan Islam, padahal di pilpres sebelumnya PS jadi calon wakil presiden bersama Megawati (tokoh yang sering dianggap dedengkotnya anti-Islam).

Foto dukungan terhadap PS dari UAS, UAH, dan UAI yang sangat bernuansa spiritual

Gagal di 2014, dukungan terhadap PS diulang tahun 2019. Kali ini dibumbui ijtimak ulama, ditambah dua ulama terkenal yang menyatakan dukungan secara ikonik setelah mendapat petunjuk lewat mimpi. Ternyata masih gagal pula. Dan yang mencengangkan, setelah itu PS malah bergabung jadi bawahan Jokowi, lawannya, orang yang kerap mereka tuduh komunis dan anti-Islam. Jadi apa artinya petunjuk lewat mimpi yang diperoleh ulama mereka?

Dan kini, sepertinya mereka akan mengulang cerita serupa. Mendukung Anies Baswedan, menganggapnya pemimpin yang bisa membawa aspirasi umat Islam. Tapi dilihat dari latar belakangnya, meski merupakan turunan Arab, hakikatnya Anies bukanlah bagian dari mereka. Anies itu condong ke liberal. Buktinya, dia pernah diterima jadi rektor di Universitas Paramadina, kampus yang didirikan tokoh Islam liberal Cak Nur. Dan satu indikasi lain, anak perempuannya tidak berjilbab.

Foto keluarga Anies Baswedan

Tokoh nasionalis seperti Ganjar Pranowo, istrinya selalu tampak berjilbab. Tokoh Islam moderat Ridwan Kamil, istri dan putrinya berjilbab. Sementara Anies Baswedan, tokoh yang saat ini menjadi idola kaum Islam politik, anak perempuannya tidak pernah tampak memakai jilbab. Bukan tidak pakai jilbabnya yang saya permasalahkan, tapi heran saja: tidakkah kaum Islam politik salah pilih lagi kali ini?

Dan jangan dilupakan, Anies sebelumnya pernah menjadi tokoh utama pendukung Jokowi. Artinya, jika saat ini Anies dekat dengan kalangan Islam Politik, sebenarnya dia sedang memanfaatkan dukungan mereka saja. Sama seperti PS di dua pemilu sebelumnya. Bagaimana pun dia itu politikus.

Yang mengherankan, kenapa dalam periode yang lama, kaum Islam politik tidak pernah memiliki calon pemimpin nasional yang berasal dari kalangan mereka sendiri?

Sejak era Reformasi, tokoh puncak di kalangan mereka adalah Amien Rais dan Hidayat Nurwahid. Keduanya pernah menjadi ketua MPR dan ketua partai politik. Tapi karier keduanya bisa dibilang sudah habis saat ini, meski AR sepertinya menolak untuk tenggelam.

Mereka pernah menggadang-gadang Yusril Ihza Mahendra, tapi nama Yusril sulit dikatrol dan sejak 2019 malah ikut barisan Jokowi. Ridwan Kamil juga sempat dielu-elukan, dianggap lebih tampan dan berwibawa dibanding Jokowi, tapi RK tampaknya ogah lama-lama bergaul dengan mereka.

Ada lagi TGB, mantan gubernur NTB dua periode. Tokoh satu ini benar-benar seorang ulama yang mumpuni, seorang ahli tafsir dan penghafal Quran. Jika kaum Islam politik mengharapkan pemimpin dengan kriteria negarawan yang ulama dan ulama yang negarawan, sebenarnya sosok semacam TGB-lah yang paling layak. Tapi sayang seribu sayang, meski pernah berkampanye untuk PS di 2014, TGB malah mendukung Jokowi di pilpres 2019.

Sempat mereka menyebut-nyebut dua ulama besar mereka, Imam Besar HRS dan UAS, sebagai calon presiden, tapi keduanya tidak punya kapasitas sebagai pengelola negara.

Sosok pemimpin hebat yang mereka dambakan adanya di luar negeri, dalam diri Muhammad Mursi, Raja Salman, dan Recep Erdogan. Tapi jelas mereka semua tak mungkin diimpor ke Indonesia.

Anies resmikan China Town di Jakarta (Juli 2022)

Tinggal Anies yang masih menikmati dukungan dari kaum Islam politik. Tapi sepertinya Anies sadar, mengingat fakta sejarah, dukungan dari kalangan itu saja tidak akan cukup untuk memenangkannya sebagai presiden. Jadi saat ini dia terlihat sedang mencoba mengayun bandul ke tengah, mengais dukungan dari sisa-sisa pendukung Prabowo dan siapa tahu bisa meraih sebagian suara pendukung Jokowi.

Sayangnya, para pendukung Anies tak henti-hentinya mencemooh Jokowi. Jadi jangan haraplah ya… []

Leave a Reply