pdip tolak israel

Penolakan PDIP terhadap Israel, saya percaya, bukan karena PDIP sedang bermuka manis terhadap umat Islam, tapi karena para elite PDIP masih terngiang-ngiang dengan kegagahan Soekarno yang pernah menolak Israel dalam kualifikasi Piala Dunia 1958 dan Asian Games 1962.

Sayangnya akar rumput PDIP tidak lagi menganggap persoalan Israel-Palestina sebagai hal yang penting, terlihat dari banyaknya pemilih PDIP yang mengungkapkan kekecewaaan terhadap Ganjar dan Koster, dua tokoh PDIP yang secara tegas menyatakan menolak kedatangan Israel ke Indonesia. Bagi akar rumput PDIP, isu Israel-Palestina rasanya terlalu jauh, tidak berhubungan dengan kehidupan keseharian mereka. Bahkan banyak pemilih PDIP yang menganggap Israel layak mendapatkan wilayahnya saat ini. Dalam hal ini sepertinya ada ketidaksinambungan antara sikap resmi PDIP dengan aspirasi massa pemilihnya.

Apa pun itu, PDIP telah menjadi pihak yang turut andil dalam menggagalkan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U20. Presiden Jokowi jelas merasa ditikung, karena tindakan PDIP itu dilakukan dengan melibatkan dua gubernur yang seharusnya berada di bawah koordinasi pemerintah pusat.

Tanpa banyak berkata-kata, Jokowi langsung membalasnya dengan mengumpulkan lima ketua umum partai pendukung pemerintah, minus PDIP dan juga Nasdem (yang telah beda haluan). Arahnya jelas, membangun koalisi besar untuk mencalonkan Prabowo pada pilpres 2024.

koalisi 5 partai

KIB (koalisi Indonesia Bersatu), koalisi Golkar-PAN-PPP, awalnya menggadang-gadang Ganjar Pranowo sebagai kandidat terkuat capres mereka, tapi kini tampaknya kandidat terkuat itu adalah Prabowo. KIB mampu menangkap aspirasi massa (setidaknya di media sosial) yang mengalihkan suaranya dari Ganjar ke Prabowo.

Prabowo sendiri tentunya sangat senang mendapat dukungan dari tiga partai KIB. Hal ini sekaligus menghindarkan dia dari keharusan berpasangan dengan Muhaimin Iskandar, sosok yang merupakan kartu mati bagi capres mana pun. Koalisi Gerindra dengan PKB dalam KKIR (Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya) sebetulnya tak lebih dari keterpaksaan agar memenuhi syarat untuk mengajukan calon presiden.

Yang kasihan Ganjar Pranowo. Banyak pendukungnya yang menyatakan tak akan memilih Ganjar di pemilu 2024. Ia sepertinya sengaja dijerumuskan oleh partainya sendiri, yang sejak awal memang tak ikhlas untuk mengajukan Ganjar. Tapi sekaligus dengan ini, sesungguhnya PDIP juga tengah mengubur dirinya sendiri. Tanpa capres yang kuat, PDIP kemungkinan besar akan turun takhta sebagai pemegang pemilu. Selain Ganjar, tak ada kandidat kuat lain dari PDIP. Puan itu kartu mati. Mega sudah teramat tua dan pernah gagal. Risma apalagi, belum matang dan sama seperti Ganjar, bukan trah darah biru di PDIP.

Batalnya penyelenggaraan Piala Dunia U20 di Indonesia menyimpan berkah bagi Prabowo. Di atas permukaan, tampaknya ia merupakan kandidat terkuat saat ini. Jika kelak ia jadi presiden, ini akan menginspirasi banyak orang bahwa usia bukan halangan untuk mengejar impian dan ambisi. Yang penting terus berbuat yang terbaik, maka tunggulah kesempatan akan datang.

Namun apakah benar analisis ini, mari kita lihat survei terdekat. Politik itu dinamis, masih mungkin terjadi hal-hal yang luar biasa sebelum pilpres digelar pada tanggal 14 Februari 2024. []

Leave a Reply